Suara-suara klakson truk tua dengan besi karatnya
Membawa beratan tanggungan perintah atasan
Dengan wajah-wajah penuh harap pulang memulang senyum pada keluarga

Tentang deretan para pengguna motor dengan rindiknya
Seperti sebuah putaran roda yang tampak apik
Serupa naskah Tuhan yang dilematis bagi manusia-manusia 
Lemah dengan ratapan dan pandangan kosong jalanan.

Darimana mau memulai?
Gang kecil ibukota atau tikungan jalan kabupaten yang sama saja
Hanya beda nuansa
Tempat hampir kau menabrakku, atau 
depan toko Cempaka kau buang kotak besar permen warna-warni
yang katanya kenangan.

Tidak tahu
Malam beberapa waktu lalu kau bercerita tentang hari esok
Dan kopi yang mendingin, seperti kentang goreng yang tak lagi renyah untuk disantap bersama beberapa jenis obrolan yang kau jadikan buku bacaan.

Malam beberapa waktu yang lalu 
Kau tak pulang kerumah, tak kau temui hunianmu yang sepi itu
Pekarangan yang tak lagi banyak bunga
Mawar-mawar yang mekarnya tak seiringan seperti bunga-bunga petrea volubilis
Detingan suara tetesan air di bak belakang rumah,
Dan tatapanmu kosong seperti bangsal rumah sakit
Tempat kakekku dirawat 7 hari pada 2 tahun yang lalu, sebelum akhirnya
Ia menaruh tangannya di atas meja dengan menetes air matanya yang kosong 
Dengan segala pandangan jatuhnya meluruh lugu pada semesta
Sebelum kau berucap, menuju pinggiran kota dan aku bertanya?

Bolehkah ku sandarkan tentang tanya hari esok, tak apakah?

Teriakku tak sekuat kekeuh dan lariku tak sekencang angan hati
Aku ingin tenggelam dalam air menuju dasar
Aku kadang suka kayu dermaga yang berteman asap rokok modern
dengan aneka aroma
dalam hisapannya berkidung ria dikursi lapuk pinggir warung reot 
tiang, rindu, aku, kalap.

Lupakan perihal kita yang duduk berdua pada pinggir tebing 
Menyaksikan riuh rendah suara deretan mobil dan klakson yang serupa teriakan arogan para petinggi suatu pemilik mata uang merah.

Dari ketinggian, 
Lagu the climbs samar-samar, dengan aroma tubuhmu yang tak lagi meratap
Penuh memabukkan seperti soda yang kau beri taburan bebanmu dan, notesmu tak lagi terisi
Dan luka-luka yang beraduk api unggun beku. 

Kau bercerita tentang hari esok
Dan ronggeng semesta serentak dengan kendangan riuh semesta menari di persimpagan lengkukan tubuhmu, 
Dan aku mengais satu dua sendok nafas dalam sisa cerita yang kau tinggalkan dan 
Bibirmu merapat diakhir.
Lalu bagaimana nanti kau ceritakan seusai aku?

Kau bercerita tentang esok
Perihal rasa damaimu pada alur Tuhan, dan tasbih dalam dzikirmu pada sela sembahyang dan aku pada langgam sholawat rosario 
Kita sama menggenggam
Kau bilang kaktus itu indah
Didepan rumah walaupun tak begitu indah untuk dilihat mata manusia normal.
Didepan rumah nanti,
Akan banyak tawa anak-anak
Riuh disepanjang koridor sekolah 
Depan rumah yang kau tinggalkan 
Disana sesekali ada tawa
Percayalah
Ada, satu bahagia yang hadir disana

Kau bercerita tentang hari esok
Tentang ibumu yang setia meracik bumbu khasnya, menggulung kain di lingkaran kepalanya guna menutup helaian rambutnya
Dan senyumnya disela ricuh isi kepala
Dan seusai itu menari diatas hamparan pasir pantai hitam berbaur pecahan karang
Dan kau tak peduli seluka kakimu menginjak kerang
Dan kau saksikan ketidak-selarasan tentang hati,pikiran, serta inginmu
Semua melodi, rima,irama, berkoyak bergema praya
Dan kau bilang, sedihmu itu rancu dan semua akan abadi seperti air laut yang berbaur dengan keringatmu saat berlari sekarang; dan polaritas mutualisme.
Dan kau menepi meneguk air perasan buah; kau tumpahkan sedikit hingga percikan tapi kau sadar
Kau bercerita hari esok, dan senandung asmarandana; kidung ronggeng sore dan pukulan tanda tembang berkumambang yang hilang, aku lupa
Diksiku tetiba rampung bahwa mata lelap di malam lampau
Baru saja ku berkeling sejenak, menuai segala kontra yang ada dan ku kunjungi nisan indah dan berseri

Cantikku, yang dulu bercerita tentang hari esok

Titik /kam,13.10.22

Ditulis oleh : 
Sekar Cahya Nuraini
Ig : @sekarchya_han

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama