sumber : Pinterest

Bercerita tentang Aksa, dia merupakan anak pertama dari pasangan Danendra dan Soraya. Nama lengkapnya adalah Aksa Alvaro, orang rumah akan memanggilnya dengan sebutan abang. Dia dipanggil abang sebagai pembiasaan pada adiknya yang masih berusia 7 tahun, selain itu ayahnya-- Danendra ingin terjalin hubungan yang dekat antara kedua anak-anaknya.

Jika adiknya memanggil Aksa dengan sebutan abang, maka sahabatnya memanggilnya sebatas El saja. Ntah lah Aksa juga bingung dengan sahabatnya yang tidak mau ribet memanggilnya itu. Lain lagi dengan teman sekelas dan teman yang sebatas kenal saja, merek akan memanggilnya dengan nama depan yang dimilikinya, yaitu Aksa. Dengan nama panggilan yang berbeda, Aksa tidak pernah mempermasalahkan itu. Yang terpenting mereka nyaman dan Aksa pun nyaman.

Aksa lahir dan besar di kota Bandung. Banyak hal yang telah dia lalui di Bandung, mulai dari persahabatan, kekeluargaan, bahkan patah hati pun terjadi di Bandung. Dia juga memiliki semacam geng dengan teman-temannya. Geng tersebut adalah "The Blues" alasan mereka memberi nama ini cukup unik sekali, alasannya karena  mereka memiliki motor berwarna biru dan juga pecinta motor berwarna biru.

The Blues bukan hanya semacam geng bagi Aksa dan sahabatnya, the blues adalah rumah kedua bagi mereka. Mereka bisa menumpahkan dan menceritakan segala masalah yang sedang dihadapi tanpa merasa sungkan atau apapun itu. Kekeluargaan mereka begitu erat, tapi itu tidak menampik bahwa mereka juga pernah berselisih paham. Tapi itu hanya sebentar, besoknya juga balik seperti biasa.

***

Mungkin untuk sebagian orang, Bandung begitu menyakitkan tapi tidak dengan Aksa. Dia begitu cinta dengan Bandung, tidak perduli sudah berapa kali dia sakit hati dengan Bandung. Ah, lebih tepatnya dengan seseorang yang dia temui di Bandung. Apa perlu kita membahasnya? Aku rasa tidak, ini hanya akan menambah sakit hatinya saja. Sebenernya kejadian itu sudah terjadi sekitar satu tahun yang lalu, tapi sakit hati itu tetap ada didalam hati Aksa. Dia tidak habis pikir dengan mantan kekasihnya yang berselingkuh dengan lelaki yang bisa kita bilang tidak tampan. Astaga, kasar sekali tapi itu fakta.

Sampai sekarang pun Aksa belum membuka hati lagi untuk perempuan manapun. Banyak perempuan yang mencoba mendekatinya tapi ya begitu, tidak mempan. Dia tidak mau sakit hati untuk keduakalinya, sakit hati satu tahun yang lalu saja masih membekas kok mau mencari kekasih. Daripada kecewa lagi, lebih baik sendiri saja dulu bukan. Sambil menunggu waktu yang tepat mungkin.

Ditengah lamunannya, Aksa dikagetkan dengan suara cempreng milik adiknya.

"Abang!!", panggil adiknya- Jiro dengan suara khasnya yang cempreng itu.

"Apa? Bikin kaget aja kamu", sahut Aksa yang benar-benar terkejut dengan kedatangan adiknya. Padahal dia merasa adiknya tadi pergi dengan orangtuanya.

"Lagian abang dipanggil dari tadi diem aja, mikir apa sih? Didapur ada martabak, mau apa nggak?", Tanya Jiro yang sekarang lagi rebahan di kasur Aksa. Aksa benci adiknya yang rebahan di kasurnya, soalnya dia itu selalu bikin kasur berantakan. Adik kalian gitu juga apa nggak?

"Mau, nanti aja tapi. Kamu jangan bikin kasur abang berantakan dong, ah", sungut Aksa pada bocah umur 7 tahun itu yang sekarang kelas 1 SD. Oh iya, Aksa selalu berbicara panjang dengan keluarga dan sahabatnya saja.

Tidak ada sahutan dari adiknya, selalu begitu. Kalau diomeli Aksa, Jiro akan memilih tidak menjawab dan bermain dengan mainannya. Terlihat mainan itu baru saja dibeli, soalnya Aksa baru melihatnya sekali ini.

Ngomong-ngomong soal Jiro, dia itu adik kesayangannya Aksa. Ya, meskipun sedikit menyebalkan tapi Aksa sayang loh sama Jiro. Sering kali terlihat Aksa membantu adiknya itu mengerjakan tugas sekolahnya, bermain dengan adiknya, atau sekedar menuruti permintaan sang adik untuk berkeliling Bandung. Padahal itu malam hari, tapi tak apa. Aksa sayang adiknya.

"Abang? Bunda masuk ya?", suara lembut yang selalu menjadi favorit Aksa selama hidupnya. Dia adalah Soraya, bunda Aksa. Wanita yang dengan sudi meminjamkan rahimnya untuk dia tinggali selama 9 bulan itu, wanita yang memiliki tempat istimewa di hati Aksa dan tentu saja di hati ayah dan adiknya juga.

"Iya bun, masuk aja", sahut Aksa dari dalam kamar. Dia tersenyum saat melihat bundanya masuk ke dalam kamar dengan membawakan martabak yang dia beli saat pergi tadi. Selalu manis perlakuan bundanya untuk kedua anaknya. Beruntungnya Aksa menjadi anaknya Soraya.

"Ini bunda bawain martabak, dimakan ya. Bunda mau bawa Jiro ke kamarnya, bisa-bisanya dia ketiduran di kamar mu, Sa", setelah bundanya berkata begitu, dia melirik adiknya, dan benar saja. Jiro ketiduran, tapi sejak kapan?

"Iya bun, makasih ya bunda", ucap Aksa lada bundanya, baik sekali bundanya. Tau saja jika Aksa sedang lapar tapi malas sekali untuk ke bawah.

"Iya sama-sama bang, habis itu tidur. Gausah begadang ya", titah Soraya pada Aksa. Karena Soraya hapal dengan kebiasaan anaknya satu tahun terakhir ini yang selalu begadang memikirkan perempuan yang telah menyelingkuhi anaknya.

Dan Aksa hanya menjawab dengan tersenyum dan mengangguk tanda mengiyakan perintah bundanya. Tapi mana mungkin Aksa tidur jam segini, sungguh tidak mungkin. Setelah bundanya keluar dari kamarnya, dia beranjak dari kursi dan mengunci pintu kamarnya. Dia tidak mau rencana begadangnya ini terganggu.

Begadang sambil memakan sepiring martabak ternyata bukan hal yang buruk. Apalagi malam ini hujan mengguyur kota Bandung, yang menambah rasa dingin malam ini. Tapi dia suka melihat hujan yang berjatuhan, rasanya tenang sekali. Hujan, gemericik air yang berjatuhan dari atas genteng, dan aroma aspal yang terkena air hujan adalah hal sempurna.

Setelah dirasa kenyang, Aksa menghentikan acara makan martabaknya. Tapi dia tidak segera beranjak dari balkon, Aksa memilih berdiam diri sambil melihat hujan yang tak kunjung reda. Padahal sekarang sudah pukul dua belas malam, tapi rasa kantuk belum menyerang Aksa. Ingin menghubungi sahabatnya pun tidak mungkin, pasti mereka sudah terlelap. Hujan seperti ini memang rasa kantuk selalu menyerang dengan tidak sopan.

Jam menunjukkan pukul satu malam, dan rasa kantuk baru saja menyerang tubuh Aksa. Dia segera beranjak dari balkon menuju kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan sikat gigi. Setelah itu Aksa langsung tidur, karena matanya sangat tidak kuat, lagipula tubuhnya sangat lelah.

***

Pukul lima pagi Aksa sudah terbangun, tapi kantuk itu masih ada. Itu juga karena salahnya sendiri, sudah tahu hari ini adalah hari Senin. Hari terkutuk menurut siswa, karena hari ini ada upacara. Apalagi semalam baru turun hujan, ah malas sekali untuk beranjak dari kasur tersayang. Begitu mungkin pikir Aksa pagi ini. Tapi dia harus segera bersiap sebelum bundanya mengomel.

Mandi sudah, sholat sudah, bersiap sudah. Semua sudah selesai dipukul 6 pagi.  Dia langsung saja turun ke lantai satu. Di meja makan sudah ada ayah dan Jiro yang melihat bundanya memasak.

"Selamat pagi semua", sapa Aksa pada keluarganya yang berkumpul di meja makan.

"Selamat pagi abang!!", sahut mereka semua. Rasanya mengucapkan selamat pagi untuk satu sama lain adalah suatu kebiasaan yang terjadi di keluarga Aksa. Atau mungkin di keluarga kalian juga?

Sarapan sudah siap, saatnya menyantap masakan bunda tercinta. Hanya dentingan sendok yang terdengar, ini juga termasuk pembiasaan yang dilakukan oleh Danendra -ayah Aksa. Sarapan sudah selesai kini waktunya untuk ketiga lelakinya Soraya berangkat dengan tujuan yang berbeda tentunya.

"Jiro berangkat sama abang apa ayah?", tanya Aksa pada Jiro. Ditanya begitu saja mikirnya lama sekali. Sambil menunggu jawaban dari Jiro, Aksa memilih meminum segelas susu yang sudah disiapkan oleh bundanya.

"Sama ayah aja", akhirnya Jiro sudah menemukan jawabannya. Setelah mendapat jawaban dari sang adik, Aksa langsung berpamitan pada kedua orangtuanya dan adiknya.

Dan semoga hari ini tidak ada lagi perempuan yang mencoba mendekatinya, ya semoga saja.


Ditulis oleh Laili Neni Susanti
Mahasiswa Prodi Ilmu komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Islam Balitar
Ig : laili.nenii

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama