Senyum Nara terkembang tanggung begitu melihat suaminya melangkah keluar dari ruang kamar, lantas mendekatinya yang tengah menumis masakan. Liam, suaminya masih mengenakan sarung dengan kaos oblong warna oranye. Rambutnya terlihat acak-acakan, kesan basah masih menempel pada rambut bekasnya berwudlu tadi. Sekarang masih pukul 05.26, Liam baru saja menyelesaikan sholat subuhnya yang bisa dibilang kesiangan.

Langkah Liam lalu terhenti di depan sebuah wastafel dapur, tepat di samping Nara yang tengah kembali fokus memasak. Di pinggiran wastafel ada beberapa tumpukan piring, sendok, serta mangkuk. Tidak ada kecupan manja ala-ala pasangan di pagi hari, bahkan sekadar kata-kata sapaan pun tidak terlontar dari mulut keduanya. Tangan Liam kemudian bergegas memunguti piring, membasuhnya dengan spon berselimut busa sabun, lalu membilasnya sampai bersih mengilat.
Sejenak Nara hanya memperhatikan tingkah suaminya itu, kemudian menoleh sembari mematikan kompor. 

"Itu sudah aku cuci lho."
"Ha!" celetuk Liam sambil mengembalikan piring tadi ke tempatnya semula. Kini tangannya berganti memungut mangkuk dan sendok-sendok.

"Semuanya sudah," kata Nara menatap Liam gemas.

"Owh, maaf-maaf." 
Liam memang sering "salah" jika berhubungan dengan pekerjaan rumah, dan Nara pun selalu maklum meski terkadang ia juga kesal sendiri melihatnya. Mereka berdua tinggal pada sebuah apartemen. Apartemen murah yang memang biasa dipakai oleh para pegawai kantor pemerintah.

Memasak di pagi hari sudah menjadi rutinitas bagi Nara, lantaran kesibukan mereka berdua, menyeret mereka harus segera sarapan sebelum berangkat kerja. Sebenarnya, dulu, Liam mengatakan agar mereka membeli sarapan sembari berangkat saja, namun Nara bersikeras untuk membiasakan memasak sarapan pagi. Meski hanya sebentar, Nara merasa lebih nyaman jikalau ia menikmati sarapan bersama dengan Liam.

Nara bekerja sebagai manajer di sebuah pusat perbelanjaan ternama di ibu kota. Sementara Liam melupakan pegawai fungsional di salah satu lembaga terpenting negara ini.

"Nanti pulang malam lagi?" Nara melempar tanya. Sejenak, sesendok nasi beserta lauk tertahan di depan mulutnya. Asap mengepul tipis, makanannya masih panas.

"Gak tahu sih," jawab Liam seperlunya, matanya menatap sang istri. Ia kemudian melanjutkan menyendok makanan di piring lalu melahapnya.

Nara tidak langsung menjawab, ia hanya mengangguk-angguk pelan lantas melanjutkan makan.

Setelah ritual sarapan tuntas. Mereka melanjutkan bersih diri masing-masing. Lantas Liam mengantar Nara menuju pusat perbelanjaan tempatnya kerja terlebih dulu. Ia memacu motor dengan lincah membelah jalanan kota yang berangsur macet di jam berangkat kerja. Barulah setelah mengantar Nara, Liam memutar balik motor, meneruskan perjalanan menuju kantor.

##
Suasana kantor cukup ramai. Sebelum masuk, seorang satpam yang berdiri di samping pintu menyapa Liam yang dilanjutkan pemeriksaan metal detector. Tak lama, Si Satpam tersenyum sembari mempersilahkan Liam masuk seperti pegawai yang lain. Masih pukul 07.54. Ada enam menit sebelum jam 8, sebagai jam resmi masuk kerja. Eight to five
Sepanjang melangkah dari lobi menuju lift, Liam mengedarkan pandangannya melihat sekeliling, beberapa kali ia saling sapa dengan pegawai lain yang tengah lalu lalang. Ruang kerjanya berada di lantai lima.

Segera setelah tiba di lantai lima, Liam sedikit mempercepat langkah menuju ruang kerjanya. Di dalam ruangan ternyata masih belum ada siapapun. Liam terhenyak, teringat bahwa hari ini surat penting itu seharusnya sudah turun. Ia terlanjur antusias, mengira bahwa atasannya telah tiba terlebih dulu hari ini. Ya, atasannya dikenal sebagai seorang yang disiplin juga serius dalam bekerja.

Liam lalu memutuskan duduk pada sebuah kursi di depan meja lebar dalam ruangan. Meja yang biasa digunakan untuk keperluan rapat maupun hanya berbincang santai. Ia keluarkan laptop dari dalam ransel, menaruhnya di atas meja, menyalakannya, lantas Liam membuka kembali beberapa softcopy dokumen yang masih harus diperiksa lebih lanjut.

"Hai!" terdengar suara orang menyapa, begitu pintu kaca berderit terbuka. Setengah jam berselang setelah kedatangan Liam. 
Liam mendongak ke arah suara. Ia tersenyum tipis, "Bagaimana Pak?"

"Surat dari Dewas sudah turun," ucapnya sembari melangkah mendekat lalu terduduk di kursi seberang Liam. Sang Atasan kemudian melempar amplop surat di atas meja yang langsung di sambar oleh Liam.

"Lakukan cepat, lima hari lagi hasil harus dirapatkan bersama tim penyidik juga Dewas. Kasus yang harus kita tangani masih banyak." Lanjut sang atasan selaku kepala deputi memberi pengarahan pada bawahannya tersebut. Ia kemudian beranjak dari duduk, melangkah keluar ruangan.

Tidak ada respon spesial dari Liam, ia hanya mengangguk paham dengan bersemangat. Tugasnya adalah menyadap informasi baik pesan maupun telepon dari target yang dituju. Hal ini dilakukan guna menambah bukti apakah target benar-benar terbukti melakukan tindak pidana korupsi atau justru tidak sama sekali. 

Meski terkesan ampuh dan tak terlacak oleh target yang notabene pasti tidak mengetahui bahwa ia telah disadap. Penyadapan selalu diidentikkan dengan permainan yang dapat disalahgunakan untuk menjerat orang lain. Bisa lawan politik, bisa rekan kerja, bisa juga pesaing jabatan. 

Karena nyatanya, banyak juga kasus yang berhenti atau dihentikan karena dirasa tidak ditemukan bukti kuat meski dilakukan penyadapan, atau dihentikan karena dirasa membahayakan posisi-posisi tertentu yang vital.

Liam tidak mau membuang-buang waktu. Ia segera menuju dalam ruangan khusus di sisi kanan meja, masih dalam satu ruangan kerja Deputi Informasi dan Data. Ruangan khusus yang menyimpan perangkat teknologi sadap. Perangkat ini dipegang oleh dua orang pegawai Inda.

Ada satu lagi pegawai partner Liam bekerja, sesama ahli IT di deputi ini. Tapi hari ini rekannya datang terlambat. Ia baru masuk ke dalam ruangan beberapa menit setelah Liam memulai tugasnya.

"Maaf-maaf, macet banget soalnya Am," kata partnernya dengan gelagat tergesa-gesa. 
"Santai Mir, baru mulai."

Si Partner tersenyum, ia segera mengambil kursi di samping temannya, namun kursinya tidak berjajar. Liam menghadap depan, sementara ia menghadap samping kanan. Mereka berdua mengoperasikan seperangkat sistem yang harus rutin dikontrol. Sistem sadap ini akan dapat berjalan otomatis maupun manual sesuai kehendak pemakainya. 

Jika otomatis, sistem akan menyadap, merekam, sekaligus menyalin semua data target. Operator tinggal menyalin data lantas menyortirnya secara manual sesuai yang dibutuhkan, karena biasanya hal-hal privasi yang berkaitan dengan target akan dibuang. Jika dijalankan manual, maka operator bisa langsung memilih ataupun membuang data yang berhasil disadap sesuai kebutuhan. Kali ini sistem dijalankan otomatis, namun akan tetap diawasi berkala sampai empat hari kedepan sebelum diserahkan pada rapat tim bersama Dewas.

Kelemahan mesin ini, satu nomor hanya bisa disadap dalam sistem selama tiga puluh hari saja. Jika diperlukan penyadapan lebih lama, maka harus dilaporkan ulang dan meminta kembali surat persetujuan dari Dewas.

"Gimana kelanjutan kasus kemarin?" tanya Liam sembari merubah posisi menghadap partnernya.

Sang Partner mengernyitkan alis, "Lanjut, padahal buktinya lemah kan ...."
"Gak jadi batal ya." Liam melipat kedua tangannya di belakang kepala. Ia menyandarkan badannya pada sandaran kursi dan memutarnya kembali ke posisinya semula.

Penyadapan terus berlanjut ke hari-hari berikutnya. Pemantauan data hasil sadapan dilakukan dengan intens. Kasus kali ini merupakan kasus jual beli jabatan di kementrian penting, yang juga melibatkan pejabat luar kementrian, pejabat DPR tepatnya, sebagai perantara sekaligus pengatur jalannya manipulasi. Selain jual beli jabatan, target juga terindikasi melakukan penggelembungan dana proyek pengadaan yang terbilang fantastis. Sebuah kasus yang tidak main-main.

Proses penyadapan sudah sampai pada hari keempat. Setelah empat hari berselang, data hasil penyadapan mulai disusun sedemikian rupa sesuai dengan bukti-bukti dugaan yang ditemukan. Tidak benar-benar disusun mengerucut, sebagian hal privasi hasil sadapan turut diikutsertakan sebagai pertimbangan pendukung. Liam dan partnernya mulai menyusun dokumen yang akan dibawa Kepala Deputi pada rapat tim penyidik bersama Dewas esok hari.

Setelah selesai meski hingga larut malam, dokumen segera diserahkan. Tidak secara langsung, tapi ditaruh di meja kerja Kepala Deputi, karena ia sudah pulang sedari sore. Hasil kelanjutan kasus tergantung bagaimana temuan lain tim penyidik juga kebijakan dari Dewas itu sendiri.

"Ditolak?" Liam masih tak percaya dengan ucapan atasannya yang baru kembali dari rapat. Sekarang pukul 13.12. Ia baru menyelesaikan makan siang, maka tenaganya terbilang penuh untuk penekanan pertanyaannya tadi.

Sementara partner kerjanya mengernyit heran meski tak turut berkata-kata.
"Bukti dari kita cukup akurat, tim penyidik juga menemukan bukti kuat lain. Tapi Dewas kekeh menekankan bahwa kasus ini belum layak ditindaklanjuti lantaran meski terbilang akurat buktinya hanya sedikit, jadinya abu-abu. Jadinya keputusan akhir ditangguhkan."
Jemari Liam mengetuk-ngetuk meja.
"Ada prioritas kasus lain Pak?" tanya rekannya.

Kepala deputi menggeser kursi lantas duduk. Ia mengeluarkan amplop berisi surat persetujuan sadap lain, 
"Ada. Kalian tangani yang ini. Jangka waktunya sama." 

Sepanjang ia mulai bekerja tiga tahun ini sudah ada ratusan penyadapan kasus yang ia dan partnernya kerjakan. Sama seperti kali ini, tidak semua kasus langsung berlanjut di proses, banyak juga yang berhenti total, atau kalau tidak kasusnya akan berputar-putar dulu lalu kembali dikembangkan lain waktu.
"Hei Mir, gimana?"

Yang dipanggil pun menoleh dengan masih setengah menatap ke layar komputer. "Udah cukup sih menurutku. Langsung kita buat laporan aja gimana?"

Sudah tiga hari penyadapan berjalan, namun bukti pelengkap kasus dirasa sudah cukup. Rekaman percakapan telepon juga hasil chat target sudah didapat. Kasusnya adalah suap proyek pengadaan alat penunjang belajar daerah tertinggal. Ya, di negara ini, proyek pengadaanlah yang kerap menjadi lahan basah. Banyak temuan korupsi besar berasal dari proyek-proyek pengadaan.
 
"Oke, aku hubungi Pak Deputi dulu soal hasil."
Liam meraih ponsel dari saku celana. Ia bergegas mengirim sejumlah chat penjelasan terkait hasil yang mereka dapatkan sampai saat ini pada atasannya. Belum ada jawaban hingga mereka mulai penyusunan laporan. 
Kepala Deputi hanya membalas oke dengan stiker jempol. Tak berselang lama ia kembali membalas akan segera meminta tim dan Dewas untuk mengadakan rapat meski masih ada tenggang waktu. Pesan atasannya tersebut kemudian dibalas kesiapan oleh Liam. Berselang sebentar, atasannya kembali mengirimkan pesan. Pesan bahwa kasus yang ditangguhkan kemarin diperintahkan untuk dilanjutkan kembali.

Timbul perasaan lega di benak Liam, namun perasan itu cepat berubah menjadi beban tatkala Kepala Deputi memerintahkan penyadapan ulang karena dirasa bukti penyadapan sebelumnya harus diperkuat kembali.

Ini berarti ia dan partnernya harus kerja keras terus-menerus. Satu selesai, yang lain datang menunggu. Memang bulan-bulan ini ada banyak kasus yang dibidik oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, dimana mayoritasnya merupakan kasus-kasus skala besar.

##
Pukul 22.45. Jalanan ibu kota masih ramai lancar meski volume kendaraan yang melintas tidak sepenuh siang hari. Liam terus memacu motornya dengan lincah melewati beragam kendaraan lain. Hari ini ia pulang malam, tidak sempat untuk menjemput sang istri. Kerapnya Nara selalu memesan ojek online sebagai transportasi alternatif. 
Sejenak kepalanya mendongak, setitik hujan mulai turun. Liam menambah laju kecepatan motor. 

Sesampainya di apartemen, Liam bergegas naik. Tangannya memutar kunci yang memang selalu ia bawa setiap hari. Kunci apartemen tidak hanya dibawa Liam, tapi juga Nara. Saat salah satu dari mereka pulang terlebih dulu, pintu akan dikunci dari dalam dan mereka yang pulang belakangan akan membuka pintu dengan kunci masing-masing.

Begitu masuk, Liam segera melepas jaket tebal dengan beberapa noda bulatan bekas tetesan air. Sebuah jaket gunung pemberian Nara yang selalu dikenakannya setiap bekerja. Ia mendapati Nara yang ternyata belum tidur.

"Kok belum tidur, malah masak mi lagi jam segini?" ucap Liam sembari mendekat lalu mendekapnya, memeluk Nara dari belakang.
Yang dipeluk terkesan acuh. Ia hanya memegangi tangan Liam yang melingkari perutnya. Sementara satu tangannya mengaduk sebongkah mi instan yang baru ia cemplungkan dalam panci, "Laper aku tuh. Mau juga?"

"Enggak, aku masih kenyang." 
Liam melepas pelukannya. Ia kemudian terduduk di kursi sambil melepas sepatu, yang lalu ditaruhnya di rak kecil samping pintu. Setelah mengambil segelas air putih dan meneguknya. Liam bergegas mandi untuk menyegarkan badan letihnya seharian ini. Banyak hal yang pasangan tersebut bincangkan malam ini. 

Bukan perbincangan hangat dalam sesi pillow talk, namun justru perbincangan meja makan. Sambil menunggu Nara menghabiskan mienya, mereka berdua mengobrol banyak. Salah satunya adalah jarangnya mereka bisa meluangkan waktu bersama akhir-akhir ini. Ya, kesibukan masing-masing membuat mereka jadi terkesan renggang. Pulang di rumah hanya sekadar mengistirahatkan badan untuk menyongsong pekerjaan esok hari. 

"Kamu gak akan menyadap ponselku kan?" tanya Nara yang langsung membuat alis Liam bertaut.

"Buat apa?" Liam merasa aneh dengan pertanyaan sang istri malam ini. Ia sudah lama bekerja di bidang sadap-menyadap, dan tak terbersit sedikitpun dengan hal semacam itu. Baginya saling menjaga kepercayaan sudah cukup untuk menjalani rumah tangga yang normal.

"Kali aja," jawab Nara dilanjut melahap sesendok mie. 

"Menyadap kasus korupsi aja gak kelar-kelar, mana sempet nyadap yang lain." 
Liam mencairkan suasana dengan celetukannya. 

Mereka berdua kembali tertawa dalam hangatnya perbincangan. Di luar kaca apartemen, hujan lekas turun dengan derasnya. Suaranya gemuruhnya sayup-sayup teredam dari dalam.

##
"Bagaimana Pak?" tanya Liam begitu pintu ruang rapat terbuka dan keluar sosok atasannya dari baliknya. Hari ini sengaja Kepala Deputi meminta timnya menunggu di luar ruangan.

Kepala Deputi sekonyong menoleh menatap kedua bawahannya. Tangan kanannya menggenggam map yang dilipat melingkar, "Beres, kasus berlanjut. Owh ya, untuk kasus yang sebelumnya ditangguhkan dan kini diproses kembali, jangka waktu penyidikannya diperpendek. Jadi lusa laporan harus siap ya?" 

"Kalau bukti yang ditemukan kurang Pak?" Partner Liam ganti bertanya.
"Ditambah bukti kemarin sepertinya cukup. Good luck ya." Kepala Deputi tersenyum, ia melenggang menjauh. 

Ada agenda lain di kantor hari ini. Sebagai seorang yang membawahi deputi vital, jadwalnya memang padat.

Pekerjaan berlanjut. Tempo dua hari, hanya ada satu indikasi bukti ditemukan. Hanya rekaman percakapana telepon. Liam dan partnernya bekerja keras menyelesaikan laporan. Sebenarnya kasus ini ternyata menyeret beberapa pejabat penting parlemen yang berpotensi merembet ke pucuk pimpinan kementerian terkait. Sebuah kasus bola salju mengerikan.

"Dengar-dengar kasus ini berpotensi menyeret kementrian ya. Siapa yang berani melaporkan tangkapan besar seperti ini ...." Partnernya mendekatkan wajah pada Liam yang terfokus pada layar monitor. 

Liam menjawab tanpa menoleh, "Sepertinya sih. Aku dengar dari desas-desus rekan penyidik, ada peran intelijen negara di baliknya."

"Apa intelijen akan menjebak pemerintahan?"
"Enggak, kemungkinan nanti targetnya tebang pilih. Aku juga baru dengar ternyata intelijen juga turut membeking kasus-kasus tertentu."
Pembicaraan berhenti. 

Hari ini, dua hari setelah rapat kemarin, mereka kembali lembur menyelesaikan laporan untuk besok.

Keesokan harinya, rapat tim penyidik bersama Dewas kembali digelar. Seluruh bukti hasil penyidikan lapangan juga sadapan dipaparkan satu per satu. Melihat potensi kasus yang jika dibiarkan akan terlampau membesar, maka diputuskanlah penindaklanjutan kasus. Operasi Tangkap Tangan akan digelar. Deputi Penindakan diminta berkoordinasi dengan petugas terkait lainnya dalam menentukan tanggal OTT yang tepat.

Dua jam rapat telah usai, semua pihak keluar rungan penuh kelegaan.
Kepala Deputi bergegas menuju ruang kerjanya dimana kedua bawahannya yang telah bekerja keras beberapa hari ini menunggu.

"Kalian boleh ambil cuti satu hari besok, refresh pikiran kalian untuk pekerjaan selanjutnya, oke?"

Kedua bawahannya mengangguk dengan tersenyum puas. Liam tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia memutuskan untuk segera pulang begitu jam kerja berakhir. Ia berencana menyiapkan beberapa kejutan kecil untuk Nara di apartemen. Dalam perjalanan pulang, Liam menyempatkan mampir ke sebuah toko kue. 

Sesampainya di apartemen pun ia segera menata meja makan sederhana mereka. Memasak sedikit hidangan yang ia bisa. Hari ini Liam sengaja tidak menjemput Nara meski ia pulang cepat. Ia membiarkan Nara memesan ojek online seperti biasanya.
Jam dinding menunjuk angka tujuh lebih dua puluh. Nara sudah sampai di apartemennya. Ia putar kunci pintu dengan santai. Menyalakan lampu, dan mendapati beberapa hidangan dengan sebuah kue kecil sudah tersaji di atas meja makan.

Dari dalam kamar, Liam yang sudah menunggu keluar menyambut. Tidak ada mawar atau jenis bunga lain yang ia sembunyikan di balik punggung. Hanya tangan kosong yang menyambut pelukan istrinya dengan hangat penuh kelembutan. Ia kemudian mengecup kening Nara, lalu mempersilahkannya untuk duduk terlebih dulu.

"Akhir-akhir ini jarang ada waktu lebih kan? Aku cuti satu hari besok untuk refreshing. Jadi aku harap cukup untuk jalan bersama, dan maaf jamuannya sangat sederhana."
Nara tersenyum, ia letakkan tasnya di atas pangkuan, "Sangat cukup kok. Aku gak akan protes rasanya."

Sepertinya keterbukaan Nara membuat Liam sedikit berkecil hati. Tapi kemudian ia maklum dengan candaan istrinya tersebut, "Jahat banget."

"Owh iya, aku juga boleh ambil cuti sehari, bebas sih kapan. Kalau kamu cuti besok, aku juga ambil besok aja," kata Nara sembari mengorek sesuatu dalam tas. 

Tidak berselang lama ia keluarkan barangnya begitu ketemu. "Ini, hadiah buat kamu. Emm, kita sih sebenarnya."

Nara menunjukkan sebuah wadah test pack yang langsung dibuka oleh Liam. Dua garis. Positif, Nara tengah mengandung. Sebuah kado manis bagi pasangan ini. Liam maupun Nara tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka.

Malam itu mereka lalui dengan penuh kegembiraan. Buncahan rasa syukur terus mereka utarakan. Makan malam, perbincangan hangat sembari menonton televisi, juga rencana kedepannya akan kehamilan Nara, beserta rencana masa depan keluarga kecil mereka yang kini mulai berkembang.

##
Operasi Tangkap Tangan akhirnya di gelar dua minggu setelah kasus diputuskan untuk ditindaklanjuti. Diluar perkiraan, dalam OTT ini tidak hanya meringkus terduga utama, tapi beberapa pejabat lain, juga sebuah transaksi haram dengan nilai yang tak kalah besar. Satu kail mengait, dua ikan terangkat ke permukaan. 


Ditulis oleh Bagas Abi Subekti
Mahasiswa Prodi Agribisnis Fak. Pertanian
Universitas Islam Balitar

Post a Comment

أحدث أقدم