foto : istimewa
Matahari sudah menampakkan dirinya. Kabutpun perlahan mulai menghilang dari pandangan mata manusia. Namun, tak seperti gambaran sebuah desa yang indah dan asri pada umumnya, disana tak pernah terdengar suara nyanyian burung di pagi hari. Memang banyak pohon disana, namun hampir tak ada yang memiliki daun yang lebat. Mungkin hanya tersisa satu atau dua saja di setiap rantingnya.

Semua berubah sejak mereka datang. Ya, sejak koloni negeri seberang datang ke desa ini. Tanah surga itu kini menjadi medan perang. Hanya ada kepulan asap hasil pembakaran burung burung besi yang lalu lalang, menjatuhkan beberapa butir bom yang darinya muncul ledakan yang mampu meratakan setiap ladang dan pemukiman warga.

"Ayo, Wan... Cepat lari!!" teriak seorang bocah kepada temannya dari atas bukit.

Awan berlari sekuat tenaga, menuju puncak bukit dimana Lintang berada. Letak bukit itu memang lebih tinggi dari desa di sekitarnya sehingga jarang ada pesawat perang yang mau melintas diatasnya. 

****

Awan dan Lintang masih berusia 12 tahun saat perang di desa itu berkobar. Kini, di umur mereka yang sudah menginjak 15 tahun, Lintang sudah menjadi anak yatim piatu karena kedua orangtuanya tewas saat invasi pertama koloni negeri seberang datang ke desa mereka. Tak seperti Awan yang masih memiliki orangtua lengkap, meski pada kenyataannya saat ini ayah Awan pergi untuk bergabung ke pasukan perlawanan di daerah selatan. Kedua bocah ini tak pernah terpisah sejak saat itu.

Mereka selalu pergi ke bukit untuk berlindung saat serangan datang, atau hanya sekadar berteduh dan bermain, karena disanalah satu - satunya tempat dimana terdapat pohon beringin besar dan berdaun lebat. Disana pula, mereka merasa seperti seorang penjaga, karena seluruh pelosok desa dapat dilihat jelas dari puncak bukit itu. Seringkali, mereka berlatih bela diri secara mandiri disana.

***

Hari itu mereka baru pulang dari bukit saat matahari telah tertelan sebagian oleh bumi. Mereka berlari terlalu kencang, hingga salah satu dari mereka tersungkur ke tanah.

"Hahahaha, Wan, Wan, gimana sih kamu. Hahaha" tawa Lintang melihat sahabatnya tersungkur ke tanah.

Awan mencoba bangkit dengan sisa luka yang ada di lututnya. Usahanya selalu gagal. Setiap kali ia berusaha berdiri, ia selalu terjatuh kembali. Ia meringih, karena memang lukanya terasa sakit jika terlalu dipaksakan. Hingga saat ia mencoba untuk berdiri dan hampir terjatuh untuk ke - 3 kalinya , ia tertahan. Lintang meraih lengan Awan dan melingkarkannya diatas bahunya.

"Sini kuantar kamu pulang," katanya.

"Dari tadi kek bantuinnya," sahut Awan dengan nada kesal.

"Haha, iya maaf," 

Mereka berjalan pulang ke rumah Awan. Tak jauh, hanya berjarak 600meter dari lereng bukit. Hanya saja, rumah Awan berada di dalam sebuah gang sempit diantara rumah warga lainnya. Ketika ia tiba di gang itu, nampak pemandangan yang tak biasa. 

"Mereka sudah pulang!" Teriak seseorang dari dalam kerumunan di sekitar rumah Awan.

Salah seorang pria gagah dengan baju perwira menghampiri mereka. Dia adalah Cak Dave. Pimpinan pasukan daerah selatan.

"Aku baru akan mencarimu, Ayo! Kemari!" Mereka berjalan masuk ke rumah awan.

Didapati seorang manusia terbujur kaku tertutup kain jarik di dalam rumah itu. Ibu awan menangis, tatapannya tak seramah biasanya.

"Ayahmu gugur sebagai seorang patriot di medan perang," lanjut Cak Dave.

Awan menangis, memeluk, menggoyangkan jasad ayahnya. Dia masih tak percaya, ayahnya gugur di medan perang. Lintang yang tak tau harus berbuat apa, memilih pulang. Dia tak mau mengacaukan perasaan sahabatnya lebih dalam. 

***

Lintang berlatih sendirian di atas bukit. Sebetulnya ia tak seratus persen sendirian. Ada seorang kakek tua berjubah panjang yang mengenakan topi dan duduk membelakanginya memandangi bangunan - bangunan desa yang bentuknya tak lagi utuh akibat perang. Sejak kematian ayah Awan 2 bulan lalu, mereka belum lagi bertemu.

"Ahh capek,,," Lintang duduk di sisi lain dari tempat duduk si pria tua.

"Hai boss!!"

"Apa kabar Wan!?" 

Awan datang dari belakang badan Lintang dan duduk di sampingnya. 

"Yaah, bohong juga kalau aku bilang baik - baik saja, kan?" Kata awan.

"Mengenai hari itu, maaf jika aku langsung pulang, Wan,"

Awan mengatakan pada Lintang bahwa dia merasa tidak masalah akan hal itu. Dia tau, Lintang hanya tak mau mengganggunya. Terlebih, sekarang ia juga tau rasanya menjadi seorang Lintang yang kehilangan semua keluarganya. Haro itu mereka kembali berkumpul dan saling bertukar pikiran. Pemikiran yang sebetulnya terlalu berat bagi seorang bocah yang masih berusia 15 tahun. Namun, mereka anak-anak perang. Mereka didewasakan oleh keadaan.

"Negri ini terlalu lama mandi darah," ucap Awan.

Lintang yang berada disampingnya hanya bisa menatap mata kawannya itu yang mulai berkaca-kaca.

"Karena itulah, kita harus bisa menghentikan perang ini, Tang, tak pernah ada kemenangan di dalam perang," terus Awan.

Begitu banyak cerita yang saling mereka tukar. Cita - cita mereka, akan sebuah negri dimana tak akan ada lagi pemuda yang harus merasakan pahitnya perang. Matahari telah terbenam. Mereka hendak turun bukit untuk pulang sampai mereka berpapasan dengan sang pria tua yang menatap mereka dengan mata tajam. Sesekali mereka hanya melempar senyum pada pria tua itu dan melanjutkan perjalanan pulang.

****

Tahun demi tahun telah berlalu. Mereka menghabiskan banyak waktu mereka di bukit itu. Hanya mereka berdua, pohon beringin, dan seorang pria tua. Pun hingga pada saat mereka mencapai usia 25 tahun, semua itu tetap sama. Negerinya masih menjadi medan perang. Desanya hancur lebur dan berserakan. Serta mereka yang masih tetap saling bertemu di bukit. 

Tentunya masih tetap dengan si pria tua yang seolah mengawasi pertumbuhan dan kebersamaan mereka berdua dari tahun ke tahun. Tak ada sedikitpun perlakuan curiga mereka lemparkan pada si pria tua itu.

Hingga suatu ketika,

"Wan, hari ini aku akan bergabung dengan pasukan perlawanan di timur," ucap Lintang.

"Jadi begitu," jawab Awan dengan singkat.

"Bagaimana denganmu, Wan?"

"Sebenarnya, minggu depan aku akan pergi ke kota, aku akan menempuh pendidikan kesehatan disana," jawab Awan.

"Oh begitu," suasana menjadi sangat hening.

"Nanti, kalau kau tertembak, aku akan menolongmu, Tang, tapi jangan melakukan hal konyol saat perang ya," Awan mencoba mencairkan suasana.

"Hahaha, pikirkan kelakuanmu sendiri, Wan," kedua pemuda itu tertawa riang.

Cuaca mendung menjadikan mereka berdua pulang lebih awal dari biasanya, meninggalkan seorang pria tua di atas bukit. Saat sampai di lereng bukit, mereka menoleh ke belakang. Menatap pria tua itu, dan melambaikan tangan sebagai sinyal perpisahan.

***

Tak lama, tetesan air jatuh membasahi tanah bukit itu. Bukan hujan yang turun. Tapi itu adalah air mata dari seorang Lintang. Ya, si pria tua itu adalah Lintang.

"Pak," panggilan seseorang itu perlahan membukakan mata Lintang dan perlahan ia mulai melihat daerah di sekitarnya berubah. Tak ada desa perang, kini, disekitarnya, di deretan jalan setapak bukit itu telah tumbuh bunga - bunga taman. Namun, hal yang tetap tak berubah adalah kenyataan bahwa Awan telah tiada. Kabarnya, Awan tewas saat sebuah bom dijatuhkan di kota tempat ia menempuh pendidikan kesehatannya. Semuanya hancur rata dengan tanah.

"Kita harus pergi pak," kata ajudan Lintang yang saat ini menjabat sebagai presiden negeri malang itu.

Belum sampai ia masuk ke dalam mobil, dari balik bukit terdengar rentetan tembakan menghujani tempatnya dan ajudannya berdiri. Lintang tewas di tempat.

Kabarnya, itu adalah ulah para pemuda oposan. Mereka tak setuju dengan gaya kepemimpinan seorang pria lemah lembut bahkan pada pihak lawan. Bagi mereka, kemerdekaan hanya akan diperoleh melalui perjuangan berperang. Negosiasi hanyalah bentuk ketakutan akan penindasan berkelanjutan.



Ditulis Oleh Bima Arya Dermawan
Mahasiswa Prodi Agribisnis Fak. Pertanian
Universitas Islam Balitar

Post a Comment

أحدث أقدم