Sebuah Opini, yang debatable.

Berbicara mengenai organisasi, pasti sudah tidak asing bagi para pelajar. Dari SD sudah dikenalkan berorganisasi. Meski organisasi pelajar biasanya mulai efektif di tingkat SMP. Diamana OSIS dan ekstrakulikuler mulai dikenal para siswa.

Lebih tinggi, bagi mahasiswa, organisasi dan berorganisasi merupakan hal biasa. Bagian tak terpisahkan dalam studi selama di perguruan tinggi. Organisasi bagi para mahasiswa merupakan wadah penting nan vital. Di mana dengan masuk di dalamnya, mahasiswa akan bisa belajar lebih banyak, lebih kompleks, lebih keras, dalam pengembangan potensi diri serta berbaur dalam lingkungan sosial.

Di perguruan tinggi, sebut saja kampus. Sudah barang tentu terdapat banyak sekali organiasi, organisasi intra dan ekstra. Kiranya tidak perlu dijelaskan antara keduanya. Mahasiswa pasti sudah tidak asing dengan hal tersebut Tak dapat dipungkiri memang, pentingnya berorganisasi bagi mahasiswa. Apalagi di kampus-kampus besar, dimana organisasi intranya biasanya sudah tersusun rapi secara administrasi juga kultur di dalamya.

Berbeda dengan kampus baru yang masih berkembang. Berproses di organisasi intra, akan lebih banyak bagaimana membentuk dan mempertahankan organisasinya sendiri serta pengambangan ke depannya. Apalagi jika senior dan rekan mahasiswa lain banyak yang apatis terhadap organissasi pasti akan menyulitkan.

Setelah terbentuk pun, sayangnya, bak kutukan dua sisi mata uang, berorganisasi di kampus terkadang banyak ditunggangi kepentingan yang berlainan dengan idealisme mahasiswa. Kepentingan yang sarat akan kompetisi dan permaianan politik antar organisasi. Hasilnya idealisme mahasiswa terkesan hanya tempelan formalitas.

Imbasnya banyak organisasi yang justru bukannya berkembang, namun malah stagnan, karena pertumbuhan organisasi tertahan kepentingan dan tujuan tertentu, di luar kepentingan dan tujuan organisasi semula. Organisasi justru tidak berfokus mencipatakan budayanya sendiri, kultur khas yang nantinya akan diwariskan turun-temurun. Malah masih terskesan mengambang dan budaya yang terbentuk, merupakan budaya kepentingan lain tadi. Organisasi tercengkeram tangan yang seperti memegang balon. Seolah membesarkan di satu sisi, tapi nyatanya mengekerdilkan di sisi lain.

Tak bisa ditampik, kepentingan lain pasti nanti akan tetap ada, itu pasti, sifatnya alamiah, muncul dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Tapi apakah seorang bocah yang lekas mampu melangkah, satu dua jengkal, akan dipaksa berlari-lari?. Didapati bocah itu malah terjatuh, luka-luka, yang lama sembuh, dan traumatik yang membekas kedepannya.

Jadi, seyogyanya biarkan bocah itu lihai berjalan terlebih dulu. Terjatuh secara alamiah, lantas baru dibantu, disemangati, diarahkan. Karena tanpa harus digembar-gemborkan, di bawah sadar si Bocah tadi otomatis ternanam motivasi, rasa kagum, lalu mengidolakan si Penolong. Akhirnya tanpa disuruh pun barang tentu akan berlari mengikuti, mengejarnya. Bukan paksaan diawal, walau terlihat halus, tapi membuat si Bocah ketakutan, dan berpikir si Penolong justru akan mendiktenya secara otoriter, semena-mena, lantas bisa berujung ‘mencelakainya’ tanpa si Penolong sadari.


Ditulis oleh : Bagas Abi Subekti
Mahasiswa Agribisbis – Fak. Pertanian
Universitas Islam Balitar

                              

Post a Comment

أحدث أقدم